Mempertahankan Kitab Klasik, Bukan Suatu yang Mudah !

Oleh : Elita Rahmi 

Kenangan tak terlupakan dengan Tuan Maha Guru Daud beberapa bulan lalu (lengkapnya Guru Daud Al Hafizh bin H. Abdul Qodir Pimpinan Pondok Pesantren tertua di Jambi berdiri 1915 M/1333) adalah makan pagi bersama KH Said Agil Siroj Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) saat di Jambi rumah ust Mubarok, disitulah saya belajar banyak, sekelas KH Said Agil Siroj Sangat hormat dan santun pada Tuang Guru Daud, bukan hanya karena Guru Daud adalah orang tua angkat KH Said Agil Siroj, tetapi dalam dialok saat suasana makan pagi nan indah itu, yang diselingi Bahasa Arap antara kedua maha guru itu terkesan Kyai said Agil sangat akrab dan santun dalam bertutur dengan guru Daud. Said Agil Siroj dan Guru Daud adalah tokoh yang saling, apapun keinginan Guru Daud.KH Said Agil sulit menolak, demikian dalam bincang bincang sekitar 60 menit itu berlangsung ramah dan penuh dialok. Jelang Said Aqil berangkat ke Jakarta pukul 8 pagi.

Dimana sekarang Sulhi tanya Said Aqil pada Guru Daud ! ada di Jambi ujar guru Daud, seraya makan nasi minyak yang sangat nikmat dengan berbagai makanan khas Jambi serta lontong yang dihidang Mubarok di rumahnya pagi ceria itu, di daerah Palmerah Jambi dekat dengan Bandara Sulthan Thaha Jambi. Menjadi suatu catatan bahwa sungguh KH Said Aqil dan Guru Daud menyimpan history panjang dalam berguru dan menuntut ilmu saat di mekkah Arab Saudi. Bersama Keakraban dua tokoh besar yang menguasai kitap kuning sungguh suatu kenangan indah dalam hidup saya.

Tuang Guru Daud ,pejuang tiada henti di Jambi Tantul Yaman Kota Jambi itu telah meninggalkan kita semua dalam usia 91 tahun, setelah beberapa tahun Tuan guru Daud sakit. Kamis 3/3/2020 Cuaca mendung, seakan-akan alam menangis tiada henti melepas sosok pejuang kharismatik , tokoh pendidikan Jambi Daud Al Hafizh bin H. Abdul Qodir Pimpinan Pondok Pesantren tertua di Jambi. Ponpes Saadatudaren Tantul Yaman sebrang kota Jambi, Ponpes yang terletak di tanah sekitar 2 hektar bersebelahan dengan Masjid Jami Azharussa’adah.

Sulhi adiknya ust Mubarok merupakan dosen Fakultas Hukum dan Imam besar masjid Unja kala sholat di Unja yang memiliki suara sangat merdu ,kala jadi Imam sholat apalgi kalau membaca doa, kita semua tertunduk malu bersadar diri.Sulhi kebanggaan kami dosen di fakultas Hukum Unja, ganteng dan berpenampilan fashionable, tenang dan sangat hati-hati kalau diskusi soal pemahaman agama, menjaga perasaan orang lain, sungguh pantas kelak meneruskan tuan guru Daud dimasa mendatang, dan saya yakin banyak mahasiswi yang senang belajar agama dengannya, plus beliau ketua Prodi Bahasa Arab di FIB Unja.

Pondok Pesantren Saadatudaren Suatu Pondok Pesantren yang kini telah menabur,kyai, ust, ulama bahkan guru-guru sekolah dan hafizh/hafizhah se antero raya. Pondok pesantren yang mengajar kitap klasik atau di kenal kitab kuning harus mendapat apresiasi kita semua, karena sekarang yang banyak adalah pola asrama pesantren, yang mengedepankan gelar formal. kita harus angkat tangan dengan khas kajian kitab kuning yang terus dipertahankan di pesantren Saadatudaren.

Dulu Pesantren Saadatudaren bernama Pesantren Sa’a Saadatuddaren Islamic School (Sekolah Islam Kebahagiaan di dua negeri) sebuah nama yang penuh kenangan untuk dunia akhirat, kalau dunia yang kita cari akhirat belum tentu dapat, tetapi kalau akhirat yang kita cari maka dunia pasti dapat. Suatu kenangan bersama Guru Daud yang tak terlupakan.

Suasana rumah duka Tuang Guru Daud, sungguh suatu idaman , di penuhi pajabat calon Gubernur Jambi , Pejabat pemerintahan, saudagar kaya di Jambi dan ribuan santri yang mengalunkan Alquran dengan faseh. Tidak inginkah kita pergi dengan cara yang serupa ?semuanya disatukan Guru Daud, bahwa negeri ini butuh sentuhan tangan yang serius dalam membangun Jambi ke depan.  

Istilah “Tuan Guru “ yang disematkan hampir semua papan duka cita untuk guru Daud menujukkan bahwa guru Daud adalah perangkul umat, pemersatu bangsa dan pecinta kedamaian. Sudah cukup lama istilah “tuan guru” tidak lagi terdengar, tetapi dengan kehilangan Guru Daud serasa istilah “Tuang guru” kembali harus kita semarakkan. Tuan Guru Besar Daud Selamat jalan, Husnull Khotimah, jejak langkah perjuangan guru Daud, inspirasi kami semua. Seseorang tidak harus dengan sederet gelar yang panjang, bila ilmunya mumpuni, maka hormatpun tiba dengan sendirinya.Jambi Berduka Tuan Guru Daud Tiada !

*Dosen Pada Fakultas Hukum Universitas Jambi, Pengagum Tuan Guru Daud